Surabaya Tak Terbendung! 34 Emas Diborong di Kejurda Finswimming Jatim 2026

Reporter : Key
Para peraih medali Kejurda Finswimming Jawa Timur 2026 berfoto bersama usai penutupan kejuaraan di Kolam Renang Veteran Lumajang, Minggu (10/5/2026). (jatimsport.com/POSSI Jatim)

Lumajang, jatimsport.com – Sorak penonton pecah di Kolam Renang Veteran Lumajang. Namun di balik gemuruh Kejurda Finswimming Jawa Timur 2026, ada cerita lain yang diam-diam membuat banyak orang tersentuh. Bukan cuma soal medali, tapi tentang mimpi atlet-atlet muda yang baru mulai berenang lebih jauh.

Selama tiga hari, sebanyak 654 atlet dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur bertarung di satu lintasan. Ada yang datang dengan ambisi juara, ada yang hanya ingin memecahkan catatan waktunya sendiri, hingga atlet debutan yang tampil dengan wajah penuh gugup.

Baca juga: Strategi POSSI Jatim di Kejurda Finswimming 2026: Cetak Prestasi dan Hidupkan UMKM Lumajang

Begitu peluit start berbunyi, air kolam langsung pecah oleh laju monofin dan bifin para atlet. Suara pelatih dari pinggir kolam bersahut-sahutan dengan teriakan penonton yang tak berhenti memberi dukungan.

Nomor surface, bifin, estafet hingga apnea menjadi perhatian sepanjang kejuaraan berlangsung. Khusus nomor apnea, suasana beberapa kali berubah mendadak hening.

Penonton terlihat menahan napas ketika atlet meluncur dari start hingga finis tanpa mengambil udara. Ketegangan itu terasa nyata di setiap lintasan.

"Bayangkan, dari start sampai finis tanpa napas. Di situ bukan hanya fisik yang diuji, tetapi juga mental, fokus, dan keberanian atlet," ujar Ketua Umum POSSI Jawa Timur, Mirza Muttaqien.

Namun Kejurda tahun ini ternyata bukan hanya soal siapa tercepat atau siapa paling banyak membawa pulang medali. Banyak momen emosional justru hadir di luar lintasan lomba.

Di tribun penonton, para orang tua sibuk merekam aksi anak-anak mereka. Ada yang berdiri tegang menunggu sentuhan finis, ada pula yang berteriak histeris memberi semangat.

Beberapa pelatih bahkan langsung memeluk atletnya usai lomba berakhir. Tak sedikit atlet muda yang akhirnya menangis setelah menyelesaikan pertandingan.

"Tidak semua pulang membawa medali. Tapi semua pulang membawa cerita," kata Mirza.

Baca juga: Penuhi Pengenalan Venue PON XXI Aceh, Atlet dan Pelatih Selam Jatim Berangkat Lebih Awal

Sebanyak 144 nomor dipertandingkan dalam Kejurda kali ini, mulai kelompok usia dini hingga senior. Persaingan pun berlangsung ketat sejak hari pertama.

Kontingen Kota Surabaya akhirnya tampil tak tertandingi dan keluar sebagai juara umum. Kota Pahlawan sukses mengoleksi 34 emas, 40 perak, dan 33 perunggu hingga penutupan kejuaraan pada Minggu (10/5/2026).

Posisi kedua ditempati Kota Kediri dengan raihan 21 emas, 17 perak, dan 15 perunggu. Sementara Kabupaten Pasuruan berada di posisi ketiga lewat perolehan 12 emas, 13 perak, dan 16 perunggu.

Kabupaten Malang menempati posisi keempat dengan 10 emas, 9 perak, dan 2 perunggu. Sedangkan Kabupaten Nganjuk melengkapi lima besar usai meraih 10 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.

Mirza menyebut Kejurda menjadi bagian penting dalam pembinaan atlet jangka panjang di Jawa Timur. Menurutnya, atlet-atlet daerah kini memiliki peluang yang sama untuk berkembang.

"Kami ingin atlet-atlet dari daerah juga punya panggung yang sama untuk berkembang dan bermimpi lebih jauh," ujarnya.

Kehadiran atlet, pelatih, official, wasit, juri hingga keluarga peserta juga membuat Lumajang terasa lebih hidup selama kejuaraan berlangsung. Hotel dan penginapan ramai, warung makan penuh, hingga aktivitas sekitar venue meningkat sejak pagi sampai malam.

Dan mungkin beberapa tahun mendatang, nama-nama yang hari ini masih dipanggil di level Kejurda akan berdiri membawa Merah Putih di panggung yang lebih tinggi.

Sebab dari Kolam Renang Veteran Lumajang, mimpi-mimpi itu ternyata baru mulai berenang lebih jauh. (*)

Editor : Nto

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru